PROGRAM BIMBINGAN UNTUK MENINGKATKAN PENALARAN MORAL SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS

Penelitian bertolak dari banyaknya perilaku remaja (siswa) saat ini yang menyimpang dari nilai-nilai moral yang berlaku. Penyimpangan tingkah laku mulai dari kenakalan siswa sampai tingkah laku yang dapat digolongkan kedalam kejahatan. Tingkah laku salah suai terhadap nilai-nilai moral di kalangan s...

Full description

Saved in:
Bibliographic Details
Main Author: Linda Adim Miyati, - (Author)
Format: Book
Published: 2008-02-29.
Subjects:
Online Access:Link Metadata
Tags: Add Tag
No Tags, Be the first to tag this record!

MARC

LEADER 00000 am a22000003u 4500
001 repoupi_62473
042 |a dc 
100 1 0 |a Linda Adim Miyati, -  |e author 
245 0 0 |a PROGRAM BIMBINGAN UNTUK MENINGKATKAN PENALARAN MORAL SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS 
260 |c 2008-02-29. 
500 |a http://repository.upi.edu/62473/1/s_ppb_03001_table_of_content.pdf 
500 |a http://repository.upi.edu/62473/2/s_ppb_03001_chapter1.pdf 
500 |a http://repository.upi.edu/62473/3/s_ppb_03001_chapter2.pdf 
500 |a http://repository.upi.edu/62473/4/s_ppb_03001_chapter3.pdf 
500 |a http://repository.upi.edu/62473/5/s_ppb_03001_chapter4.pdf 
500 |a http://repository.upi.edu/62473/6/s_ppb_03001_chapter5.pdf 
500 |a http://repository.upi.edu/62473/7/s_ppb_03001_bibliography.pdf 
520 |a Penelitian bertolak dari banyaknya perilaku remaja (siswa) saat ini yang menyimpang dari nilai-nilai moral yang berlaku. Penyimpangan tingkah laku mulai dari kenakalan siswa sampai tingkah laku yang dapat digolongkan kedalam kejahatan. Tingkah laku salah suai terhadap nilai-nilai moral di kalangan siswa dapat diakibatkan oleh berbagai hal, diantaranya akibat dari penalaran moralnya yang masih berada pada tingkatan yang rendah. Hal ini diketahui dari salah satu penyimpangan tingkah laku siswa terkait dengan penyalahgunaan narkoba, menunjukkan 97% korban narkoba adalah siswa yang berusia 13 - 25 tahun, hal ini terjadi karena remaja berfikir penggunaan narkoba sebagai suatu cara untuk mengatasi stress. Penyimpangan tingkah laku dalam pergaulan pada tingkat yang mengkhawatirkan yakni sebanyak 60% siswa mengaku sudah berhubungan intim saat usia 13-18 tahun, remaja berfikir bahwa penyimpangan perilaku seks bebas karena tuntutan pergaulan dan longgarnya kontrol orang tua mengenai praktek seks bebas pranikah. Dengan kata lain dari kedua kasus diatas menggambarkan siswa belum memiliki penalaran moral yang baik, sehingga diperlukan bimbingan untuk meningkatkan penalaran moral siswa. Landasan teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori moral Kohlberg, bahwa tahap perkembangan moral postkonvensional harus dicapai selama masa remaja dan penalaran moral menjadi salah satu prediktor tindakan moral. Permasalahan yang dibahas yaitu bagaimana program hipotetik bimbingan dan konseling untuk meningkatkan penalaran moral siswa sekolah menengah atas. Metode yang digunakan adalah deskriptif analitik dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Sampel penelitian adalah sampel populasi. Penelitian dilakukan untuk memperoleh kondisi aktual layanan bimbingan dan konseling di sekolah menengah atas, profil tahap penalaran moral siswa sekolah menengah atas dan rumusan hipotetik program bimbingan untuk meningkatkan penalaran moral siswa sekolah menengah atas. Hasil penelitian di SMA Plus Assalaam Bandung menunjukkan bahwa sebagian besar siswa kelas XI Sekolah Menengah Atas Plus Assalaam Bandung belum memiliki tingkat penalaran moral yang seharusnya dicapai. Rinciannya yaitu 16% siswa berada pada tahap 2 artinya penalaran moral siswa didasarkan pada hadiah dan hukuman. 17,86% siswa berada pada tahap 3 artinya seringkali mengambil standar moral orang tua karena ingin dianggap menjadi anak yang baik. 21, 43% siswa berada pada tahap 4, yaitu penalaran moral siswa didasarkan pada pemahaman tentang aturan, hukum, dan keadilan. Sebanyak 17, 86% siswa berada pada tahap 5A artinya penalaran moral siswa didasarkan pada pemahaman bahwa nilai dan hukum adalah relatif dan standar. 13% siswa berada pada tahap 5B yaitu penalaran moral siswa didasarkan pada hak dan nilai dasar dari masyarakat, dan 14, 29% siswa berada pada tahap 6, artinya siswa sudah membentuk standar moral didasarkan pada hak manusia secara universal. Berdasarkan penelitian mengenai profil penalaran moral dan kondisi objektif layanan bimbingan di SMA Assalaam, program bimbingan yang dikembangkan menitikberatkan pada layanan responsif. Penilaian pakar dilakukan untuk memperoleh program yang layak untuk digunakan, perbaikan dalam beberapa komponen rancangan program yaitu rumusan rasional, asumsi, rumusan tujuan program, materi kegiatan program dan evaluasi program. Rekomendasi dari penelitian kepada peneliti selanjutnya melakukan uji efektivitas program dengan memberikan perlakuan terhadap siswa yang tingkat penalaran moralnya masih di bawah yang seharusnya dimiliki yakni pada tahap 2,3, dan 4. Bagi Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan di SMA Plus Assalaam Bandung profil penalaran moral siswa dijadikan dasar program untuk digunakan di sekolah. Program yang dirancang merupakan program hipotetik untuk meningkatkan penalaran moral remaja siswa SMA 
546 |a en 
546 |a en 
546 |a en 
546 |a en 
546 |a en 
546 |a en 
546 |a en 
690 |a L Education (General) 
690 |a LB Theory and practice of education 
690 |a LB1603 Secondary Education. High schools 
655 7 |a Thesis  |2 local 
655 7 |a NonPeerReviewed  |2 local 
787 0 |n http://repository.upi.edu/62473/ 
787 0 |n http://repository.upi.edu 
856 |u https://repository.upi.edu/62473  |z Link Metadata